iklan

Google Translator
English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Friday, 13 May 2011

KETIKA STRES MELANDA


Sebuah pertanyaan besar : mengapa seseorang mengalami stress ?
Pertanyaan ini perlu dijawab terlebih dahulu sebelum kita memikirkan solusi-solusi kreatif untuk mengatasi stress. Banayak hal yang dapat menimbulkan stres, baik berupa perkara yang besar maupun perkara yang sepele. Kematian pasangan hidup (suami atau istri ) merupakan faktor pemicu stres yang telah dikenal secara luas. Di Amreika ia menjadi pemicu stres peringkat tertinggi. Bagi sebagian orang hal-hal spele juga bias menimbulkan stres .
Pemahaman terhadap faktor-faktor penyebab stres sangatlah penting. Ibarat sebuah pohon untuk mengetahui dimana ujungnya, maka kita harus merunut dari akarnya. Memahami akar setiap persoalan akan menuntun kita kea rah solusi persoalan tersebut.
Sebab-sebab stres sebenarnya mudah dipahami. Sesorang tinggal bertanya kepada dirinya sendiri: mengapa saya merasa cemas? Maka berbagai kenyataan yang memicu kecemasan, menekan perasaan, mengeruhkan pikiran, dan menyempitkan dada, semua itu merupakan penyebab stres. Dari berbagai sumber, terdapat berbagai versi faktor penyebab stres, namun rata-rata mengarah kepada penjelasan yang sama. Faktor-faktor  itu belum mencakup keseluruhan faktor yang ada, namun telah mewakili faktor-faktor terpenting diantaranya :
1.       MUSIBAH BERAT.
Musibah berat merupakan sebab stres yang paling mudah dipahami. Musibah berat terutama berupa kematian orang-orang yang dicintai . kematian bias terjadi secara berangsur-angsur atau secara mendadak. Kematian secara mendadak rata-rata menimbulkan stres berat. Apalagi jika  perestiwa yang menimbulkan kematian itu merupakan perestiwa tragis, misalnya bencana alam, kecelakaan, aksi criminal, serangan teroris, dan lain-lain.

2.       KESEMPITAN EKONOMI.
Kesulitan ekonomi merupakan faktor penyebab stres yang sangat popular. Jika dilihat dari sisi positif, kesempitan ekonomi sebenarnya tidak perlu menimbulkan stres. Coba perhatikan kehidupan masyarakat di pedesaan. Mereka hidup dengan standar ekonomi yang jauh di bawah standar masyarakat kota, namun mereka tetap tenang. Tidak menderita stres. Mengapa bias demikian? Mengapa masyarakat kota mudah stres sedangkan masyarakat pedesaan tidak?
Ada beberapa  alasan yang bisa dikemukakan yaitu sebagai berikut :
-          Kehidupan masyarakat kota cenderung materialistis. Mereka lebih percaya dengan prinsip “uang adalah segala-galanya” dari pada meyakini kemurahan Allah dan keluasan rezeki-Nya. Hati masyarakat kota cenderung terpaut dengan uang ; jika ada uang hati tenang, jika tidak ada uang hati penuh kecemasan. Dengan mutu keyakinan seperti itu wajar jika masyarakat perkotaan mudah menderita stres, mereka terlalu menggantungkan nasib kepada uang.
Sumber ketenangan hati adalah Allah, bukan uang. Siapa yang menggantungkan diri kepada Allah, hatinya akan tenang. Pada gilirannya kemudian, dia jadi lebih mudah mencari uang.
-          Keiman yang lemah menimbulkan hasad ( iri hati ) kepada orang lain yang memiliki kelebihan-kelebihan. Hasad berpotensi menghancurkan kebaikan. Ketika seseorang dilanda hasad, dia meremehkan karunia Allah dan selalu menginginkan apa yang dimililki orang lain. Mereka mencari harta bukan untuk dinikmati, tapi untuk memuaskan rasa iri dihati. Orang-orang itu sangat suka membanding-bandingkan fasilitas miliknya dengan fasilitas milik orang lain. Jika melihat orang lain lebih baik, mereka merasa tertekan sebelium bisa menyamainya.
-          Gaya hidup boros (konsumtif) menyebabkan manusia selalu hidup dalam kekurangan . beberapa pun pendapatan diperoleh ia tidak pernah mencukupi, sebab belanja yang dikeluarkan selalu lebih tinggi dari pendapatan yang diperoleh.
-          Masyarakat kota banyak yang telah meremehkan kepentingan akhirat. Mereka beragama, namun tidak menjalankan nilai-nilai agama itu. Perkara-perkara haram diterjang, barang syubahat digeluti, kezaliman dianggap biasa, manipulasi, korupsi, menjadi tradisi. Mereka hidup tanpa arah yang jelas, selain untuk dunia itu sendiri.

3.       KEGAGALAN USAHA.
Sebab lain yang sering menimbulkan stres adalah kegagalan. Kegagalan terjadi di sela-sela sukses yang diraih. Namun kadang ia terjadi beruntun, satu kegagalan diikuti kegagalan-kegagalan berikutnya. Ada ungkapan bijak, “Kegagalan adalah sukses yang tertunda”. Sayang tidak semua orang mau belajar dari ungkapan itu. Bahkan mungkin, diantara mereka ada yang belum pernah mendengar ungkapan itu sama sekali.
Bagi orang-orang arif, kegagalan dianggap sebagai perestiwa biasa. Akan tetapi, dimata manusia pesimis, kegagalan dianggap sebagai bencana besar.

4.       TEKANAN RASA JENUH.
Sebab selanjutnya yang potensial menimbulkan stres adalah kejenuhan. Kejenuhan adalah penyakit yang menekan jiwa. Orang yang jenuh ibarat badan yang tegap, besar, kekar tetapi tidak mempunyai tenaga. Hilangnya kekuatan ini bukan tidak makan, keracunan, menderita sakit, atau karena habis bekerja berat. Ia terjadi justru karena hilangnya minat, muncul rasa segan dan bosan terhadap kesibukan yang dilakukan berulang-ulang.
Kita bisa membayangkan bagai mana rasanya ketika jenuh melanda. Seseorang ingin terus berkerja, berkarya atau menghasilkan sesuatu tetapi hal itu tidak bisa dilakukan karena muncul rasa segan, tidak suka, atau benci di hati terhadap sesuatu. Situasi keseganan ini jika terus berkembang bisa menimbulkan stres.

5.       TERLIBAT KONFLIK
Sebab lain yang memicu stres adalah konflik (permusuhan). Seseorang bermusuhan dengan orang lain, sebuah keluarga bermusuhan dengan keluarga lain, sebuah komunitas bermusuhan dengan komunitas lain dan sebagainya. Konflik sangat potensial menimbulkan stres.




6.       TEKANAN LINGKUNGAN.
Kita hidup tidak lepas dari lingkungan sekeliling. Seorang guru, pelajar, karyawan, pemimpin, prajurit, dan sebaginya, mereka semua memiliki lingkungan sendiri-sendiri. Paling tidak  setiap orang memiliki keluarga, dan keluarga merupakan lingkungan hidup terkecil.
Hubungan antara seseorang dan lingkungan kadang berjalan harmonis, namun kadang berjalan buruk. Situasi hubungan yang buruk sangat menekan perasaan. Jika hal itu tidak segera diberi terapi , ia bisa memicu stres.

7.       SANKSI SOSIAL.
Sebab stres lain adalah sanksi social dari masyarakat. Sanksi social berbeda dengan hukuman yang biasa dijatuhkan pengadilan-pengadilan. Sanksi social biasanya bukan berupa hukuman fisik, namun akibatnya sangat pedih. Sanksi social biasanya diberikan jika seseorang telah melakukan tindakan-tindakan tidak senonoh yang sangat tercela di mata masyarakat.

8.       KEYAKINAN MERUSAK.
Sebab selanjutnya yang berpotensi memicu stres adalah keyakinan (akidah) merusak.
Keimanan yang benar adalah faktor yang paling kuat pengaruhnya terhadap kebahagian hidup manusia. Sebaliknya, keyakinan yang rusak merupakan sebab yang paling buruk yang akan mengundang kesempitan jiwa, kegelisahan hati, serta kesulitan-kesulitan yang seolah tiada habisnya.

0 comments:

Post a Comment

Buku Tamu

Belanja Online disini

ViralGen Referral Shopping

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes